
SMAN 1 Cepu – Siswa-siswi SMAN 1 Cepu punya cara unik dan menyenangkan untuk mengisi waktu usai jam pelajaran. Lewat program ekstrakurikuler bertajuk Ramansa Boga, mereka tak hanya belajar memasak, tapi juga dibekali keterampilan hidup yang praktis, mulai dari manajemen dapur, penyajian makanan yang estetik, hingga menyusun rencana pemasaran produk kuliner.
Program ini menjadi salah satu favorit di kalangan siswa karena menggabungkan unsur edukasi, kreativitas, dan praktik langsung. Setiap hari Rabu sore, suasana sekolah berubah menjadi dapur besar yang penuh semangat dan aroma sedap dari berbagai jenis makanan yang sedang dimasak.
Ramansa Boga digagas oleh tim guru SMAN 1 Cepu yang terdiri dari Indah Wahyu Pujiningati, Daika Silviana Effendi, Lohayati, dan Erni Handayani. Mereka melihat potensi besar dari pembelajaran tata boga sebagai bekal keterampilan hidup dan peluang berwirausaha bagi generasi muda.
Program ini terbagi dalam sepuluh pertemuan, dimulai dengan pengenalan dasar-dasar tata boga, sejarah kuliner, hingga etika dan estetika dalam penyajian makanan. Selanjutnya, siswa diajak untuk langsung praktik memasak menu yang berbeda-beda setiap minggunya, di antaranya Risol Solo, Nugget Ayam Wortel, dan Onde-Onde.
Tidak hanya teknik memasak yang diajarkan, siswa juga dibimbing untuk menyusun perencanaan produksi, melakukan pengemasan makanan, dan bahkan mempresentasikan hasil karya mereka dengan cara yang profesional.
“Kami ingin menciptakan ruang belajar yang aplikatif. Tidak hanya tahu teori, tapi juga bisa langsung praktik dan berpikir kreatif. Dari satu bahan sederhana, mereka bisa mengembangkan berbagai kreasi makanan,” ungkap Bu Indah Wahyu, selaku koordinator program.
Kegiatan Ramansa Boga
Salah satu aspek paling menarik dari Ramansa Boga adalah pendekatan wirausaha yang disisipkan dalam setiap kegiatan. Setelah membuat makanan, siswa diminta untuk membuat rencana pemasaran sederhana, seperti menentukan target konsumen, membuat label produk, hingga merancang strategi promosi.
Beberapa kelompok bahkan sudah mulai menjajaki peluang usaha kecil-kecilan dengan menjual produk buatan mereka ke warga sekolah atau lingkungan sekitar. Dengan begitu, siswa tidak hanya mahir memasak, tetapi juga memahami proses produksi dan distribusi yang bisa diterapkan di kehidupan nyata.
Ramansa Boga tidak melulu soal praktik memasak. Di beberapa pertemuan, siswa juga mengikuti berbagai fun games bertema kuliner yang bertujuan mengasah kreativitas dan kekompakan tim. Salah satunya adalah permainan menyusun bahan-bahan resep dari gambar menu, hingga lomba membawa air menggunakan alat sederhana.
Pada akhir semester, siswa menjalani asesmen sumatif di mana mereka memilih salah satu menu untuk dibuat secara berkelompok, mulai dari tahap persiapan bahan, proses memasak, pengemasan, hingga presentasi produk. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup rasa, kebersihan, estetika penyajian, kerja tim, dan strategi promosi.
Program Ramansa Boga bukan sekadar ekstrakurikuler biasa. Ia menjadi ruang tumbuh bagi siswa yang ingin mengeksplorasi dunia kuliner, belajar kerja sama, melatih tanggung jawab, dan menemukan potensi dalam dirinya. Banyak siswa yang awalnya malu-malu kini justru tampil percaya diri dan berani bereksperimen dengan ide-ide baru di dapur.
Dengan antusiasme yang tinggi, dukungan guru yang aktif, dan kurikulum yang kaya praktik, Ramansa Boga membuktikan bahwa pembelajaran di sekolah bisa dikemas dengan cara yang seru, relevan, dan membekas. SMAN 1 Cepu pun berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain yang ingin mengembangkan pendidikan berbasis keterampilan hidup dan kewirausahaan.
Konten dilindungi..!!!